Ketenangan Tak Bisa Dibeli
Seorang yang naik mobil mewah,
semisal Alphard, merasa iba pada seorang tukang becak di pinggir jalan yang tak
kunjung mendapat penumpang. Padahal bisa jadi, kasihan dan mengkhawatirkan itu
hanya kelihatannya saja. Sebenarnya tukang becak tersebut menikmati
kehidupannya penuh dengan syukur, percaya bahwa segala rezeki sudah diatur.
Hatinya lapang, ringan, tidur di becak meski dengan kaki terlipat-lipat pun
nyenyak.
Sedangkan orang yang naik mobil
Alphard itu juga bisa jadi bahagianya hanya permukaan yang tampak saja.
Sebenarnya setiap hari ia gelisah, terlalu banyaknya urusan dan kesibukan
menghambat ibadah. Akibatnya hati sempit, pikiran berat, dan meski memiliki
tempat tidur kualitas teratas, sepertinya masih lebih nyenyak tukang becak
dengan posisi tidur yang rumit.
Ya itulah.. ada pemilik perusahaan
besar, hidup dengan keberlimpahan harta, tapi setiap hari resah banyak urusan
tak kunjung terselesaikan. Ada publik figur yang popularitasnya sangat tinggi,
tapi terjebak dalam topeng, tak bisa menjadi diri sendiri. Ada yang berhasil
menikahi pujaan hati, harapan melambung tinggi, tapi ternyata pertengkaran
menghiasi rumah tangga setiap hari.
***
Kehidupan yang indah adalah
kehidupan yang penuh dengan ketenangan. Dan ketenangan itu sesungguhnya tidak
terkait dengan jumlah harta, tingkat popularitas, tinggi rendahnya jabatan,
ataupun terealisasinya menikahi pujaan hati. Sebab memang bukan itulah hal-hal
yang menghantarkan ketenangan.
Air mengalir dari sumber mata air,
dan pipa-pipa lah yang menghantarkannya. Apabila pipa rusak, maka pipanya
tinggal diperbaiki, atau diganti. Pipa rusak tak mempengaruhi keberlimpahan air
di sumber mata air. Tapi bila air di sumber mata airnya yang habis, maka mau
sebanyak apapun dan seberkualitas apapun pipanya, air tetap tak bisa mengalir.
Airnya habis di sumbernya.
Itulah ketenangan. Ketenangan itu
seperti air. Dan sumbernya adalah Allah Subhanahu wata’alla. Sedangkan harta,
jabatan, popularitas, ataupun benda-benda, itulah pipa-pipanya. Seringkali kita
sibuk memperbanyak pipa, memperbagus pipa, tapi tak membenahi kualitas
kedekatan kita dengan sumbernya.
Kualitas kedekatan kita kepada Allah
itulah yang menjadi ukuran keberlimpahan ketenangan hidup. Desss! Langsung ke
sumbernya! Tapi sayangnya tak semua menyadari itu, dan malah sibuk dengan
pipa-pipa yang melalaikan.
Kebanyakan mengira dengan menjadi
kaya, akan nikmat kehidupan. Belum tentu. Atau mengira dengan banyak diakui,
banyak dikenal publik, akan menyenangkan hati. Belum tentu. Sibuk mengurus pipa,
mengabaikan yang utama, sumbernya.
***
Ketenangan tak bisa dibeli oleh
uang, harta, jabatan, popularitas, cinta, ataupun oleh pil penenang sekalipun.
Ketenangan itu mutlak berada dalam genggaman Allah, milik Allah. Maka
sesungguhnya ketenangan adalah karunia, pemberian, yang hanya akan
dianugerahkan kepada pribadi-pribadi yang pantas mendapatkan.
Dengan skala masalah yang sama
persis, ada yang sangat khawatir hingga terpuruk, dan ada yang ringan-ringan
saja. Apa pembedanya? Pembedanya berada pada ketenangan diri. Dan ketenangan
diri bergantung pada kualitas kedekatan kita dengan sumber ketenangan, Allah
subhanahu wata’alla. Maka jika diri sedang tidak tenang, tau kan apa yang harus
diperbuat? 
https://febriantialmeera.wordpress.com/





